Temanlah yang akan menjadi tempat kita menumpahkan isi hati, temanlah yang menolong ketika kita mendapatkan masalah, temanlah yang selalu menasihati dan memerhatikan ketika kita ada di jalan yang salah. Teman yang kita cintai karena Allah, yang bertemu karena Allah, dan berpisah juga kerena Allah adalah teman yang selalu membawa kita untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Tawuran di mana-mana, ada tawuran antar siswa beberapa sekolah, sampai bentrok antar- massa antara penduduk desa yang satu dengan yang lain, pengadilan makin ramai dengan tuntut-menuntut, gugat-menggugat antara dua lembaga sampai dua orang teman baik. Ramainya negeri ini dengan berbagai perbedaan pendapat, perselisihan sampai perkelahian, sudah menunjukkan bahwa nilai-nilai persahabatan saat ini mulai sirna.Ironis kalau di negeri yang dulu dikenal keramah-tamahannya ini, sekarang menjadi carut marut dengan berbagai sengketa, orang makin jauh dengan nilai-nilai persahabatan.
Tidak seorang manusiapun di dunia yang bisa hidup sendiri. Manusia memerlukan orang lain untuk menemaninya dalam menjalani hidup ini. Oleh karena itu Allah memerintahkan kita untuk saling mengenal dan saling memahami, walaupun kita diciptakan Allah dengan jenis, suku dan bangsa yang berbeda-beda. Ada laki-laki, ada wanita, ada orang Indonesia, orang Malaysia, ada suku Sunda ada suku Jawa, dan lain-lainnya. Hari-hari kita pasti lebih bermakna kalau kita punya banyak saudara dan sahabat.
Bagaimanakah ciri-ciri orang yang bisa kita jadikan teman? Apakah kita akan berteman dengan orang yang tiap harinya melakukan hal-hal yang tidak ada maknanya? Atau orang-orang yang sering melalaikan perintah Allah? Atau hanya berteman dengan orang yang kaya? Atau hanya yang pintar? Apakah orang yang memenuhi semua ciri-ciri tersebut pantas untuk kita jadikan sahabat sejati. Perhatikan sabda Rasulullah saw.: “Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang yang beriman.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi). Begitu pula firman Allah: “Sesungguhnya (hanyalah) orang-orang yang beriman itu bersaudara.” (Q.S. al-Hujurat/49:10). Berdasarkan uraian di atas, maka untuk memilih seseorang menjadi sahabat kita ada beberapa ciri sebagai berikut:
1. Berakhlak mulia, karena bisa jadi orang yang berakal belum tentu memiliki akhlak yang baik.
2. Beriman dan bertakwa, dengan iman dan ketakwaan itulah dia akan selalu mengingatkan kita kepada Allah swt.
3. Berpegang teguh pada Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta jauh dari khurafat dan bid'ah. Karena hanya berpedoman Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah-lah seseorang akan sukses hidupnya.
Inilah di antara ciri-ciri sahabat yang harus kita cari dan kita cintai karena Allah swt. Persahabatan sesama muslim yang didasari rasa cinta kasih sayang dan rasa saling menghormati dan yang dilandasi iman dan takwa kepada Allah swt. itulah arti sebuah persahabatan sejati.
Idealnya sebagai seorang muslim, memilih sahabat di utamakan yang seiman. Itulah yang dicontohkan Rasulullah saw. dengan para sahabatnya dulu. Persahabatan yang diikat oleh keimanan itulah yang akan menumbuhkembangkan rasa ukhuwah atau persaudaraan. Semangat lebih mementingkan sahabat daripada kepentingan pribadi (itsar), hanya ada pada mereka yang benar-benar merasa saudara seiman. Bahkan, tidak jarang persaudaraan seiman itu lebih kuat daripada persaudaraan sedarah. Karena itu, benarlah pernyataan Rasulullah saw. ”Orang-orang beriman itu laksana satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, angota tubuh yang lain pun ikut merasakan.”
Proses persahabatan dapat diuraikan menjadi tiga tahap berikut.
Tahap pertama, Ta'aruf atau saling mengenal. Pada tahap ini biasanya kedua belah pihak saling mengenal. Data yang dapat dicatat sebatas biodata singkat. Jika ada kesamaan, biasanya persahabatan itu dapat lebih akrab. Sebaliknya jika tidak ada kesamaan, biasanya hanya sebatas persahabatan. Dalam tahap ini, perbedaan keyakinan kadang diabaikan.
Tahap kedua, tafahum atau saling memahami. Pada tahap kedua ini kedua belah pihak sudah saling memahami kelebihan dan kekurangan. Salah satu pihak atau keduanya sebatas memahami kekurangan pihak lain, tanpa ada keinginan masing-masing untuk mengoreksi. Sebab suatu koreksi dapat menyakitkan hati. Biasanya mereka takut jika jalinan persahabatannya retak. Persahabatan ini jika dialami oleh dua orang berbeda jenis, tidak jarang menimbulkan rasa cinta. Bahkan bisa berlanjut sampai ke pernikahan. Dalam tahap ini, masih banyak yang mengabaikan keyakinan. Sehingga tidak jarang dua orang yang berbeda agama dapat menjadi kekasih atau menjadi suami istri.
Tahap ketiga, ta'awun atau saling menolong. Pada tahap ketiga inilah persahabatan sejati muncul. Kekurangan masing-masing pihak berusaha ditutupi pihak lain. Bahkan kedua pihak bekerja sama untuk memperbaikinya. Ibaratnya, melihat sahabat memiliki 1 kelebihan dan 99 kekurangan, dia hanya mau melihat kelebihannya itu. Sementara kekurangannya dia tutup rapat-rapat. Dalam tahap ketiga ini, keyakinan sangat memegang peranan. Karena itulah dalam Surah al-Maidah ayat 3 ditegaskan agar orang beriman saling menolong dalam kebaikan. Tidak jarang persahabatan ini jika berkembang dan berlanjut hingga menikah akan melahirkan keluarga sakinah wa rahmah.
Menjaga dan mempertahankan persahabatan
Ketika sudah mendapatkan sahabat yang kita cari, lalu bagaimanakah kita menjaganya supaya tetap terjaga sepanjang masa? Inilah di antara tips-tipsnya.
1. Memanjatkan doa untuknya meskipun saling berjauhan atau saling berpisah.
2. Jika berjumpa dengannya, berikan senyum dan muka yang manis, dan jangan lupa ucapkan salam.
3. Berjabat tangan atau ta'anuk (merangkul dan saling bersentuhan leher) apabila bertemu, karena hal itu dapat menggugurkan atau menghapuskan dosa. Hal ini tidak berlaku untuk lawan jenis.
4. Saling mengunjungi antara satu dengan yang lain.
5. Menyampaikan ucapan selamat berkenaan dengan kesuksesan yang diraihnya.
6. Memberikan hadiah pada saat-saat tertentu.
7. Memberikan perhatian terhadap keperluan saudaranya.
8. Menengoknya apabila sakit, atau menjenguknya ketika dia tertimpa musibah.
9. Menjaga aib yang ada padanya.
Kita tidak bisa hidup sendiri, kita butuh sahabat atau teman yang menemani, ketika kita sedang tertawa atau ketika kita sedang sedih. Temanlah yang akan menjadi tempat kita menumpahkan isi hati, temanlah yang menolong ketika kita mendapatkan masalah, temanlah yang selalu menasihati dan memerhatikan ketika kita ada di jalan yang salah. Teman yang kita cintai karena Allah, yang bertemu karena Allah, dan berpisah juga kerena Allah adalah teman yang selalu membawa kita untuk mendekatkan diri kepada Allah. Di atas itu semua, kita tetap harus hati-hati dalam memilih teman. Sebab, teman-teman akrab pada hari itu (kiamat) sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (Q.S. az-Zukhruf/43:67). Wallahua'lam bish shawwab. (As)















