Orang tua jelas mempunyai peran yang besar dalam mendidik dan membentuk karakter putra putrinya. Meskipun nantinya akan ada banyak faktor yang berpengaruh pada perkembangan perilaku anak, tetapi keluarga tetap menjadi faktor utama dan terbesar dalam memengaruhi tumbuh kembang anak baik secara fisik maupun psikologis.
Kecerdasan orang tua dalam mengatur segala urusan rumah tangga mulai dari menjadi orang tua yang baik, pola mendidik anak, mengatur perekonomian keluarga, dan lain-lain akan menentukan sukses atau tidaknya dalam mewujudkan keluarga yang bahagia.
Dalam dunia pendidikan kita mengenal berbagai macam kecerdasan. Setiap ahli mempunyai rumusan tersendiri tentang kecerdasan. Namun secara garis besar, seperti yang telah diketahui bersama kecerdasan dibagi dalam 3 kategori yaitu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Mungkin tidak hanya dalam dunia pendidikan saja teori kecerdasan ini bisa diterapkan. Tidak ada salahnya jika kita (para orang tua) mencoba menerapkan teori kecerdasan ini untuk mengelola kehidupan berkeluarga.
Orang tua yang mempunyai pendidikan formal yang tinggi akan mempunyai pengetahuan, pengalaman, dan wacana yang luas yang nantinya akan diberikan kepada keluarga khususnya anak-anaknya . Namun untuk menjadi cerdas secara intelektual tidak hanya dengan mengenyam pendidikan yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak mengenyam pendidikan formal yang tinggi tetapi mereka bisa memberikan banyak pengetahuan, pengalaman, dan wacana yang luas kepada anak-anaknya. Hal ini karena ketajaman berpikir orang tua dalam menangkap dan mengikuti perkembangan segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita.
Kecerdasan emosi orang tua akan banyak memengaruhi sisi psikologis anak. Ketika anak masih kecil, ia akan banyak meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Dan mungkin hal itu akan menjadi sebuah pola perilaku sampai anak dewasa. Orang tua sebaiknya berhati-hati dalam meluapkan emosinya baik emosi senang/bahagia maupun emosi marah karena anak selalu melihat apa yang orang tua lakukan. Memberi contoh meluapkan emosi kasih sayang, bahagia dengan memberikan pelukan dan ciuman akan memberikan kehngatan dalam hati anak. Harapannya ia akan melakukan hal serupa. Ketika kita sedang marah usahakan agar anak tidak melihatnya, jika tidak memungkinkan berikan contoh luapan marah yang sewajarnya dan pada tempatnya. Membanting pintu, memecahkan piring, teriak-teriak dengan kata-kata kasar bukanlah pilihan marah yang tepat sasaran justru akan menimbulkan masalah yang baru dan membuat jiwa anak guncang dan terluka. Suatu saat ia akan melakukan anarkisme yang sama.
Ketika dalam Al Qur'an anak dilarang untuk mengatakan “ah” kepada orang tuanya sebenarnya membawa konsekuensi bagi orang tua untuk tidak berkata kasar dan buruk kepada anak karena perkataan yang keluar dari mulut anak tidak lain merupakan cerminan perkataan orang tua.
Pada tataran praktik hal ini memang tidaklah mudah. Betapa berat sang ayah mengendalikan emosi marah ketika pulang dari kantor dalam keadaan capek, sampai rumah dihadapkan pada masalah entah dari istri atau dari anak. Belum lagi masih membawa masalah dari kantor yang belum selesai. Atau seorang ibu yang seharian telah lelah menyelesaikan pekerjaan rumah, anak rewel, dan masih harus memikirkan perputaran keuangan yang makin sulit akan memicu emosi marah. Di sinilah kecerdasan dalam mengelola emosi sangat diperlukan agar orang tua bisa memberikan teladan yang baik bagi anaknya.
Tidak ada orang tua yang menginginkan keburukan pada diri anaknya. Banyak hal yang dilakukan orang tua agar anaknya menjadi anak yang cerdas, sukses, sholeh-sholihah. Namun terkadang orang tua lupa memberikan teladan yang baik kepada anak-anaknya. (Rna)
Menjadi Orang Tua Cerdas












