Saya rasa sebagai orang tua, tidak ada yang ingin anaknya saat dewasa nanti hidupnya jadi sengsara, tidak punya uang, banyak hutang atau memiliki kesulitan keuangan. Tetapi anehnya apa yang dilakukan atau yang tidak dilakukan oleh 80% orangtua saat ini, secara tidak sadar mengondisikan anaknya saat dewasa nanti jadi sengsara, banyak hutang atau kesulitan keuangan lainnya.
Setiap kita melihat TV, majalah, koran atau ke Mall / Plaza, kita dibombardir dengan iklan atau tawaran menarik yang semuanya ingin membuat kita mengeluarkan isi dompet. Belum lagi ke plaza / mall manapun saat ini, kita ditawari Kartu Ajaib dimana kita bisa belanja tanpa harus mengeluarkan uang langsung, bayarnya bisa nunda 45 hari atau bahkan dicicil saja, sesuatu yang tidak bisa dibayangkan oleh generasi sebelumnya. Anda tahu kartu ajaib itu ? Itulah Kartu Kredit, gratis biaya tahunan lagi, mana tahan… langsung saja Anda daftar untuk mendapatkannya.Yang mungkin tidak Anda sadari adalah semua iklan dan semua tawaran kartu kredit mendidik Anda untuk mempunyai perilaku konsumtif. Awalnya mungkin Anda belanja sesuai dengan kebutuhan, tetapi karena terus dibombardir iklan dan tawaran menarik yang mendidik perilaku konsumtif, Anda mulai tergiur juga dan pelan-pelan secara tidak sadar pengeluaran Anda mulai meningkat. Secara tidak sadar, Perasaan tertekan dan stress mulai timbul. Karena belanja selama ini memberikan suatu perasaan senang, saat Anda merasa stress, dorongan untuk belanja / beli sesuatu semakin kuat, karena Anda mencari suatu perasaan senang kan dalam hidup. Anda mulai berpikir bahwa solusi terhadap permasalahan Anda adalah dengan menghasilkan uang lebih banyak. Anda membayangkan “Kalau saja saya punya penghasilkan dua kali lipat dari sekarang, pasti permasalahan keuangan ini selesai”. Beberapa di antara Anda pernah mengalami hal seperti ini dan saat penghasilan Anda meningkat, pengeluaran Anda juga meningkat pula sehingga Anda tetap tidak keluar dari kesulitan keuangan Anda.
Coba Bayangkan kira-kira apa yang dipelajari anak Anda (jika anda punya anak tentu saja) tentang uang? Anak belajar dari mengamati orang tuanya, bukan dari nasihat atau ucapan orangtuanya. Sehingga masuk akal kan, bila anak dari mengamati orang tuanya, belajar atau percaya bahwa tujuan memiliki uang adalah untuk dibelanjakan atau untuk dihabiskan? atau anak belajar bahwa membeli sesuatu memberikan kebahagiaan? Karena anak sering melihat orangtuanya tampak senang dan bahagia setelah membeli sesuatu baik itu baju, produk elektronik atau barang konsumtif lainnya. Sehingga masuk akal kan bila akhirnya anak tersebut juga ingin bahagia atau senang dengan cara belanja / membeli sesuatu? Dan akhirnya anak akan mengulangi lagi kehidupan orangtuanya yang tertekan karena permasalahan keuangan.
Inilah yang dimaksudkan pada awal tulisan ini, banyak orangtua secara tidak sadar bahwa perilakunya mengkondisikan anaknya saat dewasa nanti jadi sengsara, banyak hutang atau kesulitan keuangan lainnya karena anak tidak dididik untuk memiliki kebiasaan yang benar mengenai uang atau dengan kata lain, anak tidak dididik untuk memiliki kecerdasan keuangan.. Karena itu berhati-hatilah, sikap orang tua yang keliru dalam mengelola keuangan keluarga akan membuat anak secara tidak langsung belajar dari sikap orang tua dalam membelanjakan uangnya.
Akan berbeda jika anak banyak melihat orang tuanya yang senang membelanjakan uangnya untuk membantu orang lain, beramal, infak setelah kebutuhan keluarga yang penting terpenuhi. Anak melihat orang tuanya merasa bahagia jika membelanjakan uangnya di Jalan Allah, dan biasanya orang tua sangat berhati-hati dalam hal ini. Maka anak akan meniru sikap hati-hati orang tua dalam mengelola uangnya. Inilah cara pembelajaran untuk anak mengenai uang. (As).
















