Majalah Nur Hidayah

Media Mencerdaskan Umat

Friday
Mar 19th
Home Hikmah Karakter Kepahlawanan

Karakter Kepahlawanan

E-mail Cetak PDF
Dan sekarang ini, Bangsa Indonesia harus bangkit dari krisis dengan kesadaran bahwa memang kita harus bangkit. Kita tidak punya pilihan. Para pahlawan kita dulu berteriak, "Merdeka atau Mati!", sebuah teriakan yang menyempitkan pilihan dalam situasi sulit. Dengan teriakan itu rakyat akan bersatu dan memiliki visi dan pikiran dasar yang sama. Dengan begitu, bangsa kita akan lebih mudah menggalang diri dan menyusun agenda bersama untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Bulan Agustus 2009, masyarakat Indonesia tidak lepas dari perayaan rutin memperingati kemerdekaannya. Sebuah acara peringatan dalam mensyukuri nikmat kemerdekaan. Dan tanggal 10 November bangsa ini juga memperingati hari pahlawan sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangan dan pengorbanan para pahlawan yang gugur membela bangsa dan tanah air.
 
Di Indonesia perlawanan terhadap para penjajah cukup menggemparkan. Dari sabang sampai Merauke bermunculan pahlawan-pahlawan pembela tanah air. Hampir sebagian besar pahlawan itu adalah sosok seorang muslim. Mulai dari Sisingamangaraja, Teuku Umar, Imam Bonjol, Pangeran Antasari, Sultan Hasanuddin, Pangeran Diponegoro, Ba'abullah, dan lain sebagainya.
Lalu model kepahlawanan mana yang bisa kita teladani? Tulisan ini akan menguraikan karakter kepahlawanan para pahlawan bangsa yang telah gugur dalam merebut kemerdekaan bangsa dari tangan para penjajah.
Para pahlawan seperti Pangeran Diponegoro, Pattimura dan Panglima Sudirman serta para pahlawan lainnya sangat  dicintai rakyatnya. Mereka anak bangsa yang mencintai bangsanya melebihi cintanya pada diri dan keluarga. SK Presiden RI yang menetapkannya mereka sebagai pahlawan nasional adalah salah satu pengakuan formal betapa figur para pahlawan bangsa tersebut patut diteladani. Ada tiga karakter kepahlawanan yang menonjol pada para pahlawan bangsa tersebut, yang dapat kita ambil hikmahnya. Kita sebagai pelaku sejarah Indonesia pasca kemerdekaan harus bisa menghargai jasa para pahlawan kemerdekaan, dengan memahami karakter yang dimiliki oleh para pahlawan kita. Karakter tersebut antara lain dapat diikuti melalui kepahlawanan Pangeran Diponegoro.
1.    Karakter kerakyatan
Meski putra raja, Diponegoro yang sewaktu kecil bernama Ontowiryo lebih suka tinggal bersama rakyat di Desa Tegalrejo daripada di keraton. Pecahnya Perang Diponegoro (1825-1830) salah satunya disebabkan oleh perlawanan Diponegoro atas perampasan tanah-tanah milik rakyat oleh perkebunan-perkebunan pengusaha Belanda. Pembelaannya yang besar kepada rakyat membuahkan dukungan luas dari kaum bangsawan, ulama dan petani. Ketika itu Diponegoro memutuskan untuk melawan kolonialisme Belanda dengan taktik perang gerilya. Jadilah Perang Diponegoro sebagai perlawanan rakyat terbesar yang pernah dialami Belanda selama menjajah Jawa, hingga Belanda menyebutnya Perang Jawa (Java Oorlog). Dalam sejarah Asia, perang ini juga disebut pemberontakan rakyat/petani. Kecintaan rakyat yang besar pada Diponegoro menjadikan mereka tidak menggubris tawaran menggiurkan dari Belanda sebesar 20.000 ringgit bagi siapa yang bisa menangkap Diponegoro hidup atau mati.
Demikian halnya yang ditunjukkan oleh Panglima Sudirman. Lahir dari keluarga petani kecil, di desa Bodaskarangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, pada tanggal 24 Januari 1916. Ayahnya seorang mandor tebu pada pabrik gula di Purwokerto. Sejak bayi Soedirman diangkat anak oleh asisten wedana (camat) di Rembang, R. Tjokrosunaryo. Beliau berjuang melakukan perang gerilya di tengah-tengah rakyat, melakukan perjalanan walau harus ditandu dari desa ke desa berjuang bersama rakyat.
2.    Karakter Kebangsaan
Karakter kepahlawanan Diponeogoro berikutnya adalah karakter kebangsaan. Diponegoro dikenal cinta tanah air dan antikolonial. Tahun 1822, dia memilih keluar dari keanggotaan Dewan Mangkubumi akibat masuknya Residen Belanda sebagai anggota dewan. Residen tersebut yang memiliki hak perwalian terhadap Sultan Hamengku Buwono V yang kala itu berusia sangat muda (3 tahun). Saat perang melawan Belanda, dia berobsesi untuk menyatukan empat keraton di Jawa Tengah, yaitu Ngayogyakarta, Pakualaman, Kasunanan dan Mangkunegaran, yang dulunya satu namun terpecah-belah karena politik adu domba Kolonial Belanda.
Demikian pula Panglima Sudirman. Beliau memimpin perang gerilya di tengah-tengah pasukannya dihutan-hutan, di tengah rakyat. Hal yang sama juga dilakukan oleh Teuku Umar dan Cut Nyak Dien. Dengan semangat kebangsaannya, suami istri itu memimpin perjuangan rakyat Aceh dari tengah hutan.
3.    Karakter Keagamaan
Karakter kepahlawanan  yang ketiga adalah karakter keagamaan. Sejak kecil Diponegoro tertarik dengan kehidupan keagamaan. Dia diasuh dan dididik oleh neneknya, Ratu Ageng (janda Sultan Hamengku Buwono I) yang dikenal shalihah. Sikap sebagai seorang Muslim yang taat ditunjukkan Diponegoro ketika awal tahun 1823, dia difitnah oleh Belanda sebagai penyebab kematian Sultan HB IV tahun 1822. Dia menyelesaikan masalah besar ini dengan lebih banyak tafakkur, berdzikir, dan berkonsultasi dengan para ulama/kiai, seperti Kiai Abdani, Kiai Tapsiranom, dan Kiai Mojo, yang kemudian diangkatnya sebagai penasehat spiritual saat perang. Diponegoro dan pengikutnya menyebut perang melawan Belanda sebagai "Perang Suci" melawan kejahatan dan kelaliman. Bahkan konon, Diponegoro dijuluki sebagai amirul mu'minin ing tanah Jawi (pemimpin orang beriman di tanah Jawa).
Begitu pula yang terjadi pada diri Jendral Sudirman. Sebagai kader Muhammadiyah, Panglima Soedirman dikenal sebagai santri atau jamaah yang cukup aktif dalam pengajian “Malam Selasa”, yakni pengajian yang diselenggarakan oleh PP Muhammadiyah di Kauman berdekatan dengan Masjid Besar Yogyakarta. Seorang Panglima yang istimewa, dengan kekuatan iman dan keislaman yang melekat kuat dalam dadanya. Sangat meneladani kehidupan Rasulullah, yang mengajarkan kesederhaan dan kebersahajaan. Sehingga perlakuan khusus dari jamaah pengajian yang rutin diikutinya, dianggap terlalu berlebihan dan ditolaknya dengan halus.

Bangkit
Karakter kerakyatan, kebangsaan dan keagamaan itulah yang harus diteladani oleh bangsa Indonesia, khususnya para pemimpinnya. Ketiga karakter kepahlawanan itulah yang mampu menjadi trigger kebangkitan semangat perlawanan rakyat terhadap penjajahan. Dan sekarang ini, Bangsa Indonesia harus bangkit dari krisis dengan kesadaran bahwa memang kita harus bangkit. Kita tidak punya pilihan. Para pahlawan kita dulu berteriak, "Merdeka atau Mati!", sebuah teriakan yang menyempitkan pilihan dalam situasi sulit. Dengan teriakan itu rakyat akan bersatu dan memiliki visi dan pikiran dasar yang sama. Dengan begitu, bangsa kita akan lebih mudah menggalang diri dan menyusun agenda bersama untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Akhirnya, rakyat dan pemimpinnya bersatu dalam agenda tunggal menyelamatkan bangsa dari kehancuran. Para pemimpin yang memberikan keteladan bagi rakyatnya akan membangkitkan semangat kepahlawan di kalangan pemuda-pemudi di negeri ini. Sehingga seluruh rakyat memahami makna kepahlawan yang pernah ditorehkan para para pahlawan di negeri ini. Diharapkan dengan itu akan membangkitkan semangat kita untuk membangun negeri ini ke depan menjadi lebih baik lagi.
Semoga ribuan pahlawan tidak gugur sia-sia dan hanya tinggal nama. Semoga kepahlawanan mereka tidak sekadar menjadi teks cerita. Dan semoga segera muncul trigger di Indonesia yang akan memicu kesadaran bangsa ini. Semuanya tergantung bagaimana kita meneladaninya. Itulah yang menginspirasi Chairil Anwar untuk berpuisi Diponegoro… di manakah Tuan hidup kembali… (As)
Sumber : Diambil dari Babad Tanah Jawa, Sejarah Pahlawan Nasional dan Sejarah Islam Indonesia.
 

Sekilas Info

Sebagai bentuk kepedulian sosial dan amal shalih kita semua, Yayasan  siap menerima anak asuh baru. Bagi muslimin dan muslimah yang memiliki informasi tentang anak yatim piatu dapat menghubungi Panti Asuhan Yatim Nur Hidayah Surakarta. Jl. Pisang No. 12 Kerten Laweyan Surakarta atau Info lebih lanjut hubungi (0271) 711792, 723737.

Dengan Syarat :

1. Islam

2. Usia SD kelas 1 - 5 ( 6th-11th)

3. Yatim Piatu atau yatim dan miskin

Renungan

Jika Allah yang menjadi tujuan, kenapa harus dikalahkan oleh rintangan-rintangan yang kecil di hadapan Allah? Jika mencari nafkah merupakan ibadah, semakin kerja keras kita, insya Allah semakin besar pahala yang akan diberikan oleh Allah. Jika nafkah yang didapat merupakan bekal untuk beribadah, maka semakin banyak nafkah yang didapat, semakin banyak ibadah yang bisa dilakukan.

Login Form

  • Masuk
  • Mendaftar
    Registration
    *
    *
    *
    *
    *
    REGISTER_REQUIRED
  • Redaksi Online

    Amin santoso
    :
    Setyo
    :
    Iffah
    :
    Admin :

    Konsultsasi Syari'ah Online

    Ust. Kasori Mujahid

    Donate Us

    NO.138-0093017262
    NO.521.00185.22
    NO.984 2598-5


    Statistik Pengunjung

    Kami memiliki 18 Tamu online
    Anda pengunjung ke-
    mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
    mod_vvisit_counterHari ini137
    mod_vvisit_counterKemarin329
    mod_vvisit_counterMinggu ini1163
    mod_vvisit_counterBulan ini4728
    mod_vvisit_counterTotal35600

    Download smadav

    smadav antivirus indonesia

    Follow Us