Bagaimana bisa waktu itu Susi melihatnya makan di restoran. Dia tahu, Umi Farah bakal marah besar dan pasti akan menjatuhkan sanksi padanya. Ini sudah ke sekian kali Umi Farah memanggilnya dan memberinya sanksi. Entah sekarang apalagi sanksi yang akan diterimanya. Ranti sudah beberapa kali diskors. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau dia dikeluarkan dari panti asuhan ini. Bagaimana dengan sekolahku, teman-temanku? Ranti seperti melihat bintang-bintang bertaburan di atas kepalanya.
Ranti!” Umi kaget melihat Ranti menyelinap di kamarnya.“Apa yang kamu lakukan di kamar Umi?”
“Nggak, Umi. Ranti nggak ngapa-ngapain kok. Ini tadi mau minta pembalut Umi nggak ada. Ranti baru saja mens. Trus, Ranti cari sendiri deh,” jawab ranti mencari-cari alasan.
“Ya sudah. Sudah dapat belum?”
“Belum, Mi. Tolong ambilin dong Mi,” rajuk Ranti.
Umi Dewi mengambilkan pembalut untuk Ranti dari dalam lemari penyimpanan barang khusus di kamarnya. Setelah itu, Ranti keluar dari kamar Umi Dewi.
“Syukron Umi,” Ranti langsung ngeloyor pergi. Sampai di kamarnya, Ranti merasa lega. Syukurlah tadi Umi Dewi percaya alasan dia menyelinap ke kamarnya. Kalau tidak bisa berabe, pikirnya.
“Aduh, darimana lagi aku bisa dapetin uang sebanyak itu? minggu ini saja aku sudah minta uang cukup banyak ke Umi Dewi. Kalau aku minta lagi, nanti dia curiga. Tapi aku harus mendapatkannya untuk bayar SPP. SPP bulan lalu uangnya kepake buat traktir teman. Gimana, nih? Aduh…. Pusing!” Ranti menggerutu sendiri. Tangannya menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
Sementara di kamarnya, Umi Dewi memeriksa barang-barang berharga dan uang yang disimpannya di lemari. Masih utuh semua. “Alhamdulillah,” desahnya. Dia kaget Ranti berani masuk ke kamar pengasuh. Sebelum ini Ranti pernah punya kasus. Dia ketahuan mencuri uang milik temannya. Wajar saja kalau Umi Dewi waspada dengan sikap Ranti yang menurutnya cukup mencurigakan.
Siang ini Umi Dewi ada rencana pergi ke sekolah Ranti. Pengeluaran Ranti beberapa minggu ini agak mencurigakan. Tidak biasanya dia minta uang sebanyak itu. Ada-ada saja alasannya, bayar inilah, bayar itulah. Ikut kegiatan ini, uang praktik. Entah apalagi. Dia ingin mengetahui sebenarnya apa saja kegiatan di sekolah yang diikuti Ranti.
“Begini, Bu. Saat ini pihak sekolah sementara tidak mengadakan kegiatan-kegiatan seperti biasanya karena waktunya mendekati ujian semesteran. Jadi kami khawatir kalau ada kegiatan, anak-anak akan terganggu belajarnya,” begitu bapak berkaca mata tebal itu menjelaskan kepada Umi Dewi saat dia menanyakan kegiatan apa saja yang ada di sekolah saat ini.
“Oo.. begitu ya Pak. Maaf sebelumnya. Saya hanya ingin tahu sebenarnya adik saya Ranti itu ikut kegiatan apa saja. Soalnya beberapa akhir-akhir ini dia sering minta uang lebih kepada saya. Katanya banyak kegiatan di sekolah. Ee.., ternyata malah tidak ada kegiatan sama sekali. Ya sudah, Pak. Terima kasih banyak atas waktu dan informasinya.”
Umi Dewi mulai percaya pada omongan Susi. Ranti sering merengek padanya agar mau meminjamkan uangnya untuk keperluan yang nggak jelas. Tapi Susi tidak pernah memberinya. Susi pernah cerita kalau dia melihat Ranti sedang makan di salah satu restoran cepat saji di salah satu mal di Solo. Aneh, tidak mungkin anak panti asuhan punya gaya hidup seperti itu, itu kan restoran mahal. Dari mana dia bisa mendapatkan uang?
Tanpa sengaja, sewaktu Umi Dewi keluar dari ruangan guru, dia berpapasan dengan Ranti yang berjalan bersama dua orang temannya. Ranti kaget bukan main. Seingatnya dia tidak pernah menerima panggilan untuk walinya dari kepala sekolah. Ranti mulai khawatir Umi Dewi mengetahui rahasianya selama ini.
“Gawat! Bisa kacau, ni,” gumamnya.
“Eh, Umi. Ada apa Umi. Tumben ke sekolah Ranti. Nyariin Ranti ya, Mi,” sapanya basa-basi.
“Nggak. Kebetulan ada sedikit urusan. Nanti Umi pengen bicara sama kamu di rumah. Pulang sekolah jangan mampir ke mana-mana, langsung pulang ya, Umi tunggu,” ucap Umi tenang seolah tidak ada masalah apa-apa.
Sampai di rumah, Umi Dewi sudah menunggu kepulangan Ranti. Ranti mengucap salam dan mencium tangannya.
“Habis ganti baju kamu turun lagi ya Ranti. Umi mau bicara.”
“Iya, Mi,” Ranti bergegas naik. Pikirannya kacau sekali. Dia bingung mau memberi alasan apa kalau Umi Dewi menanyakan perihal uang yang dia minta. Semua alasan yang sudah dikatakannya pasti sudah tidak mempan lagi karena tadi Umi Dewi sudah ke sekolah. Dia sengaja mengulur waktunya untuk ganti baju sambil otaknya terus berpikir mencari alasan yang tepat.
“Assalamu'alaikum,” Ranti mengetuk pintu kamar Umi Dewi.
“Wa'alaikumussalam. Masuk Ranti, nggak dikunci,” Umi Dewi menutup buku catatan pengeluaran anak-anak Panti Asuhan Cahaya. Dia masih ingat jumlah uang yang telah diminta Ranti bulan ini, 200 ribu. Padahal rata-rata anak-anak biasanya hanya meminta tak lebih dari 50 ribu, paling banter 100 ribu.
“Ranti, Umi minta kamu jawab dengan sejujur-jujurnya pertanyaan Umi. Kamu tahu tadi Umi ke sekolah kamu ngapain?” Ranti menggeleng. Dia tidak berani menatap mata Umi Dewi. Kepalanya tertunduk lesu bagai seorang pesakitan.
“Tolong jelaskan kamu gunakan untuk apa saja uang yang kamu minta akhir-akhir ini.”
“Kan dulu sudah Ranti bilang, uang itu untuk bayar kegiatan sekolah. Ranti ikut banyak kegiatan Umi. Pramuka, komputer, jurnalistik, dan koperasi. Kebetulan akhir tahun ini ada kegiatan penutup dan itu butuh biaya agak besar.”
“Nggak usah bohong lagi kamu Ranti! Umi sudah tahu semuanya. Tadi Umi menemui guru kamu yang mengurusi kegiatan kesiswaan. Sekolah tidak mengadakan kegiatan apa-apa. Kamu kemanakan uang itu Ranti. Ayo jawab!”
“Ehm… ehm…itu Mi. Teman Ranti sakit parah. Dia anak orang miskin, tidak punya biaya untuk berobat ke rumah sakit. Jadi, Ranti minta uang ke Umi untuk membantu dia. Ranti takut Umi tidak mau memberinya kalau Ranti bilang yang sebenarnya,” akhirnya Ranti menemukan ide untuk mencari alasan yang tepat. Umi pasti percaya.
“Teman kamu yang mana? Yang kamu ajak akan di restoran di mal itu? Berapa orang, tiga, empat, atau lima orang?” sergah Umi dewi.
“Restoran apa Umi, Ranti nggak mudeng. Orang teman Ranti sakit beneran kok.” Wajah Ranti pucat. Dari mana Umi Dewi tahu kalau dia pernah makan bareng teman-temannya di restoran di mal itu? Gawat!
“Sudahlah Ranti. Kamu nggak usah mengelak lagi. Umi punya saksinya. Umi nggak suka punya anak asuh yang suka bohong. Kalau sekarang kamu sudah suka bohong, bagaimana nanti jadinya kamu kalau sudah dewasa?”
“Nggak Mi, Ranti nggak bohong.”
“Masih nekat kamu ya. Umi nggak mau menanggung dosa kamu. Susi! Masuk sini!" teriak Umi Dewi. Rupanya dia sudah mempersiapkan saksi kunci tentang kebohongan Ranti.
“Katakan apa yang kamu lihat di mal.”
“Susi lihat Ranti lagi makan bareng teman-temannya di restoran, siang pulang sekolah.”
“Jadi, Ranti, kamu masih mau mengelak. Kamu mau dikasih sanksi apa? Besok Umi Farah akan datang ke sini. Kamu siap-siap menerima akibat perbuatan kamu.” Kata Umi Dewi datar. Ranti terpekur. Mukanya merah, antara menahan malu dan marah. Umi Farah adalah Pembina Panti Asuhan Cahaya. Meskipun dia ramah, tapi kalau lagi marah anak paling bengal pun nggak akan mau berhadapan dengannya.
Bagaimana bisa waktu itu Susi melihatnya makan di restoran. Dia tahu, Umi Farah bakal marah besar dan pasti akan menjatuhkan sanksi padanya. Ini sudah ke sekian kali Umi Farah memanggilnya dan memberinya sanksi. Entah sekarang apalagi sanksi yang akan diterimanya. Ranti sudah beberapa kali diskors. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau dia dikeluarkan dari panti asuhan ini. Bagaimana dengan sekolahku, teman-temanku? Ranti seperti melihat bintang-bintang bertaburan di atas kepalanya.














