Subuh pun usai, sang fajar mulai muncul. Akupun bersiap-siap berangkat ke sekolah di hari pertama aku sekolah. Kucium telapak tangan penuh kasih kedua orang tuaku dan kuucapkan salam penuh hangat dan hormat. Kutinggalkan gubuk kecil milik orang tuaku. Kutapaki pematang padi yang mulai menguning, melewati sungai yang mengalir deras, ikan-ikan yang berloncatan dan sang mentari yang menyinariku, menantangku untuk menghadapi hariku nanti.
Namaku Diana Wati, biasa di panggil Wati oleh teman-temanku. Aku selalu mendengar teman-temanku bahagia karena mendapat prestasi sepuluh besar di sekolah. Saat ini keinginanku untuk dapat bersekolah dapat terwujud walaupun bukan jerih payah kedua orang tuaku.
Saat memasuki ruang kelas, aku merasa melayang, bu guru menyilakanku untuk memperkenalkan diriku. Tapi tak satupun teman-teman baruku mau berteman denganku. Namun aku berbahagia karena ada satu temanku yang bernama Wina mau berteman denganku. Saat istirahat aku bertanya kepada Wina, apakah arti dari semangat berprestasi. “Win, aku mau tanya apa sih yang disebut semangat berprestasi?” tanyaku. Oo… semangat berprestasi itu adalah semangat akan mengukir suatu kebanggaan dan suatu kejuaraan akademi,” jawabnya pasti. Tapi saat itu salah satu temanku ada yang mengejekku. “Eh Wina kok temenan sama orang miskin, nanti jadi bodoh lho!”, “Kalau mau ngejek jangan di sini. Emang kamu sudah pinter apa?” bantah Wina. Di dalam hatiku aku bertekad, aku harus semangat untuk berprestasi dan menjadi lebih pintar dari mereka dan juga terima kasih untuk Wina yang mau menolongku dari ejekan teman-teman. Mereka tidak boleh mengejekku atau mengejek orang lain yang sederajat denganku.
Seminggu telah berlalu sebelum pulang sekolah, bu guru mengumumkan bahwa besok akan di mulai UTS semester satu. Katanya Wina, besok akan menjadi hari yang tersulit. “Tau nggak Wat, besok akan menjadi seminggu hari yang beraaatt! Aku nggak tau bisa apa nggak,” katanya panik. “Sudahlah jangan panik, pasti kita besok bisa kok kalau kita semangat dan mau berusaha. Aku tidak akan menyerah walaupun itu harus memerlukan pengorbanan yang besar tapi aku harus tetap semangat,” kataku yakin.
Malam pun tiba, aku berpikir mengapa harus secepat ini diadakan UTS. Huh..lelah sekali harus menghafal tiga bab sekaligus, tapi aku tidak akan menyerah. Di bawah lampu minyak, aku belajar dengan penuh semangat dan ditemani si jago ayamku. Dengan satu pensil dan satu penghapus aku mengerjakan beberapa soal yang telah aku pelajari.
Pagi pun tiba, aku harus bersiap-siap menghadapi sesuatu yang pertama kali baru aku alami yaitu UTS. Setelah kurasa, soal-soal itu tak begitu sulit,… kenapa yah…? Aku yakin pasti ini karena ada kemauan berprestasi di dalam jiwaku, semoga saja. Saat istirahat, di bawah pohon Wina bertanya padaku. “Wat, tadi soalnya susah banget ya?” Tanyanya lesu. “Tidak begitu susah jika kita pantang menyerah dan semangat,” jawabku sambil memakan singkong goreng buatan ibuku. “Kamu memang anak yang membanggakan, pasti kamu akan mendapat rangking satu,” balasnya lagi. “Amiiin, ya sudah ayo kita ke kelas,” ajakku mengakhiri percakapan tadi.
Sudah seminggu aku menjalani tes-tes ini dengan penuh perjuangan di bawah lampu minyak di kamarku. Akhirnya hasilnya keluar juga. Pagi-pagi ini kau dan ibuku pergi bersama ke sekolah untuk mengambil raportku. Walaupun berpakaian seadanya, aku dan ibuku memasuki kelas dan ketika raport di buka. Alhamdalillah aku peringkat satu. Ketika itu ibuku berkata padaku, “Nduk, kamu memang anak ibu yang membanggakan.” Terima kasih bu” jawabku sambil menangis haru. Teman-temanku saling berdatangan sambil meminta maaf. Aku berkata kepada mereka, “semangat berprestasi itu penting, jadi hidupmu harus penuh semangat dan perjuangan.”
















